Makna Belajar dan Kendala-Kendala dalam Proses Belajar Mengajar ( Terapan Dalam Psikologi Pendidikan )

Tidak banyak orang yang menyadari pentingnya proses belajar. Tidak jarang pula seseorang tidak menyadari dengan proses belajar yang dialaminya. Seseorang yang ketika masih kecil belum dapat berjalan lantas bisa berjalan, itu merupakan proses belajar yang telah dijalaninya. Seseorang yang tadinya belum dapat berpikir tentang apa-apa lantas dapat berpikir dan bisa melihat, menilai, dan berperilaku terhadap lingkungan sekitar, maka orang itu telah menjalani proses belajar dalam hidup ini. Proses belajar itu cakupannya sangatlah luas. Proses belajar bisa melalui cara makan, minum, berjalan, mengendarai kendaraan, menulis, menggambar dan masih banyak lagi.
Tetapi semua itu sangat disayangkan ketika orang yang melakukan proses belajar justru tidak menyadari proses belajar itu. Ketidaksadaran itu disebabkan kebanyakan orang tidak tahu  makna sebenarnya tentang belajar dan mengajar. Proses belajar mengajar adalah suatu proses dua arah yang melibatkan pendidik dan para siswa di institusi pendidikan yang melibatkan aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif. Pendidik disini bisa siapa saja, bisa guru, dosen, praktisi pendidikan, ataupun konselor. Ketidaksadaran seseorang tentang proses belajar yang telah dijalaninya dan ketidaktahuan seseorang makna pentingnya proses belajar bisa jadi disebabkan kesalahan dalam proses belajar dan mengajar itu sendiri.
Kesuksesan dalam proses belajar mengajar adalah tanggung jawab antara pendidik dan para siswa. Metode yang diberikan oleh pendidik memang sudah seharusnya dapat diterima oleh para siswa. Cara menyampaikan materi yang selama ini menjadi kendala bagi sebagian tenaga pendidik, perlahan-lahan mulai diatasi dengan baik. Perkembangan teknologi sangat membantu dalam proses menyusun metode pembelajaran dan penyampaian materi.
Belajar adalah sesuatu yang harus dilakukan oleh pendidik maupun siswa. Seorang pendidik tidak akan mungkin menyampaikan materi dengan baik tanpa membaca materi yang akan diajarkan. Begitu pula seorang pelajar tentu tidak akan mendapatkan apa-apa jika hanya mengandalkan pelajaran di kelas tanpa belajar di luar jam pelajaran. Belajar adalah sesuatu yang sangat penting jika kita menginginkan pengetahuan yang luas. Belajar menjadi kebutuhan kita semua jika kita ingin hidup sejahtera dan mendapatkan tempat di masyarakat. Tidak akan mungkin orang yang bodoh menjadi pilihan di masyarakat luas. Ada beberapa hal yang menjadi dasar mengapa kita harus belajar sepanjang masa, sepanjang hidup kita. Hal ini ditulis oleh Robert Steinbach dalam bukunya Successful Lifelong Learning yang mengungkapkan ada lima alasan seseorang mesti belajar terus menerus.


Alasan 1:
Perubahan berjalan cepat. Sehingga seseorang harus mengikuti perubahan itu dengan cepat.
Alasan 2:
Kondisi Ekonomi. Secara ekonomi, dengan keadaan yang serba cepat seperti sekarang ini, dibutuhkan orang-orang yang memang mau belajar dengan niat, kemauan, dan keterampilannya sendiri. Kita akan dipandang oleh suatu masyarakat atau suatu perusahaan dimana kita kerja, tergantung kita dalam menjadikan diri kita lebih aktif dan agresif dalam belajar.
Alasan 3:
Kualitas Hidup. Belajar tentu akan memperkaya hidup kita dengan pengetahuan-pengetahuan yang kita dapat. Kualitas hidup kita dapat dilihat dari bagaimana kita bisa memperbaiki diri kita dari hari ke hari.
Alasan 4:
Keamanan. Orang yang memiliki pengetahuan yang tinggi tentu mereka yang percaya pada kemampuannya sendiri. Disinilah letak rasa aman itu. Seseorang yang merasa aman adalah orang yang bisa dihargai di masyarakat dan selalu bisa mengikuti tuntutan zaman. Melalui keterampilan sendiri, seseorang tentu mampu melakukan berbagai hal-hal yang baru dalam mengamankan kehidupannya.
Alasan 5:
Kondisi Alamiah Manusia. Sejak lahir, manusia memang diciptakan untuk belajar. Belajar merupakan proses sepanjang hidup. Banyak tokoh di dunia ini yang menggunakan sepanjang hidupnya untuk belajar, seperti Leonardo da Vinci, Abraham Lincoln, Helen Keller, dan Malcolm X.
Hal inilah yang mendasari manusia untuk terus belajar dan melakukan perubahan-perubahan yang ada pada dirinya. Sama halnya dengan belajar, proses mengajar juga merupakan sesuatu yang tidak kalah pentingnya. Berbicara mengenai proses mengajar, tentu tidak lepas dari seorang guru. Makna guru dalam dunia pendidikan selalu menjadi acuan dalam penunjang keberhasilan anak didik selama proses belajar. Makna guru dalam dunia pendidikan sangatlah luas. Kita mengenal guru jika di sekolah dasar hingga sekolah tingkat atas. Jika di perguruan tinggi, seorang pendidik disebut dengan dosen. Tetapi ketika seorang dosen telah diangkat sebagai professor, secara umum dosen itu disebut sebagai guru besar. Ini membuktikan bahwa istilah guru adalah orang yang paling diharapkan dalam suksesnya proses belajar di  dunia pendidikan. Guru mendapatkan tempat yang tertinggi dalam struktur  pendidikan. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah, seberapa besar kualitas seorang guru, terutama dalam hal mendidik, mengajar, memotivasi para siswa didiknya? Jika pertanyaannya lebih besar lagi, seberapa besarkah kualitas seorang guru dalam memajukan pendidikan?
Beban yang diberikan seorang guru dalam menjadi ujung tombak dalam suksesnya proses belajar terkadang justru menjadi bumerang buat guru tersebut. Hal ini tentu akan berimbas pada proses belajar mengajar itu sendiri. Beban yang terlampaui berat yang dipikul guru, menjadikan proses belajar tidak berjalan efektif dan terkesan membosankan. Hal ini menimbulkan kesalahan-kesalahan dalam proses belajar mengajar itu sendiri seperti kurangnya motivasi, kurangnya pembaharuan-pembaharuan, penyampaian metode pembelajaran yang tidak tepat, dan kurangnya waktu pendekatan yang diberikan guru kepada siswa. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan Suwondo, Direktur Tenaga kependidikan Depdiknas (dalam Gerbang, 2005) yang menyatakan bahwa kualitas seorang pendidik dalam hal ini guru, masih sangatlah rendah.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya kualitas seorang guru yaitu kualifikasi pendidikan guru yang masih dibawah standar minimal, rendahnya kesempatan guru untuk meningkatkan diri, dan komitmen yang tidak optimal dari seorang guru. Sebagian guru menjadi tenaga pendidik karena tidak ada pilihan karir yang lain. Guru mengajarnya pun tanpa adanya kreatifitas. Guru hanya mengajar sebagai rutinitas dengan usaha yang seminimal mungkin. Hasilnya guru tersebut tidak antusias, kurang bersemangat, dan mudah menyerah. Ini yang membuat proses belajar mengajar menjadi tidak sejalan seperti yang diharapkan. Siswa yang diharapkan menjadi respon atas apa yang diberikan oleh guru tidak berjalan sesuai yang diharapkan. Siswa terkadang tidak mengerti apa yang disampaikan oleh gurunya sendiri. Tidak jarang guru malah menjadi bulan-bulanan oleh siswanya sendiri.
Kondisi di atas tentu sangat memprihatinkan bagi dunia pendidikan terutama dalam proses belajar mengajar. Ketidaktahuan orang atau siswa untuk belajar dan rendahnya kualitas tenaga pendidik dalam mendidik dan mengajar siswanya, membuat proses belajar dan mengajar menjadi terhambat. Dalam psikologi pendidikan, beberapa ahli-ahli psikologi mengungkapkan bahwa teori belajar adalah bagaimana seseorang dapat merubah tingkah lakunya sebagai hasil dari belajar. Tolman (1932), mengemukakan bahwa belajar adalah sifat utama dari tingkah laku keseluruhan manusia. Bahkan Guthrie menganggap bahwa belajar itu memang sifatnya jiwa manusia. Ia menyatakan bahwa: The ability to learn, that is, to respond differently to a situation because of past response to the situation, is what distinguishes those living creatures which common sense endows with mind. This is the practical descriptive use of the term mind (Guthrie, 1948). Hull (1943) juga menyatakan bahwa orang susah membedakan antara theory of behavior dan theory of learning karena begitu pentingnya soal belajar. Jadi, dapat disimpulkan bahwa sebagian teori-teori psikologi menjadikan masalah belajar menjadi hal yang sentral. Tetapi seperti yang dibahas di awal tadi, bahwa seseorang sangat susah buat mengerti dan memahami makna pentingnya belajar. Bahkan manusia terkadang tidak sadar bahwa dirinya sedang dalam proses belajar. Seseorang tidak menyadarinya telah mempergunakan akal, daya, seluruh panca indera yang dimiliki untuk proses belajar. Hal ini jelas terbalik dengan teori yang dikemukakan oleh Cronbach yaitu belajar yang sebaik-baiknya adalah mengalami, dan dalam mengalami itu si pelajar mempergunakan panca inderanya. “Learning is shown by a change in behavior as a result of experience ” (Cronbach, 1954).
Sebagai penutup, bahwa proses belajar dan mengajar bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Akan terjadi suatu kekeliruan apabila ada anggapan bahwa belajar harus dalam keadaan formal. Suatu kekeliruan apabila belajar harus di sekolah dengan posisi duduk di meja dan mendengarkan guru bicara. Proses belajar yang benar adalah jika seseorang mendapatkan sesuatu yang baru yang diterima dan diproses secara kognitif dan mampu diamalkan di masyarakat. Mendapatkan sesuatu yang baru bisa didapatkan dimana saja dan kapanpun. Proses belajar yang dilakukan seseorang bisa dikatakan efektif dan ada hasilnya apabila ada perubahan perilaku pada diri orang itu. Dan proses belajar akan sukses apabila didukung oleh tenaga pendidik berkualitas yang mampu mengajar. Pendidik sebagai motivator yang selalu mengerti kebutuhan siswa didik tentu akan menampilkan sosok yang memang harus dibutuhkan oleh para siswa. Jangan sampai seorang pendidik seperti guru, dosen, atau siapapun itu mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari para siswanya sendiri. Siswa justru merasa tidak nyaman sendiri dengan pengajarnya. Hal itu bisa menimbulkan kesalahan-kesalahan dalam proses belajar dan mengajar antara pendidik dan siswa. Kesalahan-kesalahan itu seperti kurangnya komunikasi antara pendidik dengan siswa, kurangnya motivasi dari pendidik sendiri, dan kesalahan dalam menyampaikan metode pembelajaran. Perlu adanya sinergi yang tepat antara pendidik dan para siswa untuk bisa melakukan proses belajar dan mengajar dengan tepat dan efisien disamping siswa juga harus membentuk dirinya melalui proses belajar di luar jam pelajaran.

*Ditulis oleh Ramon Ananda Paryontri S.Psi
Mahasiswa Universitas Gajah Mada

Alamat Facebook : (http://facebook.com/ramon.prayontri)

Kata kunci pencarian:

makna belajar, kendala belajar, hambatan belajar, kendala dalam belajar, hambatan dalam belajar, memaknai guru dan kesempatan belajar, kendala-kendala dalam belajar, pengertian makna belajar, makalah makna belajar, kendala dalam proses belajar mengajar, hambatan dalam proses pembelajaran, kendala dalam proses pembelajaran, kendala dalam pembelajaran, belajar dalam psikologi pendidikan, kendala pembelajaran, kendala-kendala dalam proses pembelajaran, hambatan-hambatan dalam belajar, kendala dalam mengajar, belajar dalam psikologi, hambatan dalam proses belajar

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>