Kekerasan Terhadap Anak

Jika ada ungkapan bahwa anak adalah titipan Tuhan yang harus dijaga tentunya ungkapan tersebut bukanlah ungkapan yang tanpa makna. Pada waktu dilahirkan anak memberikan kepercayaan sepenuhnya pada kedua orang tua untuk mengasuh dirinya. Anak tidak pernah berprasangka bahwa orang tua merekalah yang akan menghancurkan hidup mereka. Demikian juga harapan setiap anak terhadap orang dewasa lain disekitarnya. Mereka percaya 100% bahwa tidak ada seorang pun yang akan menyakiti dirinya. Alam menitipkan si mungil pada orang dewasa karena tidak seperti kebanyakan binatang manusia membutuhkan waktu yang lama untuk mandiri.

Namun jika kita menilik pemberitaan di berbagai media setiap harinya, hampir tak luput dari pemberitaan adanya kekerasan terhadap anak. Bukan lagi dikarenakan konteks wilayah antara kota dan desa lagi, tapi hampir merata terjadi di seluruh area.

Dengan fakta bahwa (almarhum) Dede,harus mati karena dibunuh oleh ayah tirinya, Anggi (6 tahun) telah memperoleh kekerasan dari ibunya. Lintang dan (Almarhumah) Indah yang menjadi korban ibunya.Ismi yang telah menjadi korban dari ibu Suri tempat ia tinggal. Riska Rosdiana(7 tahun) yang dicekik oleh ibu tirinya dan diperkosa oleh adik ibu tirinya. Tia yang telah menjadi korban setrika dari ayahnya karena dituduh mencuri hingga Nia Siahaan (2 Tahun) di Manado mendapatkan luka fisik dari ayah tirinya.

Mereka-anak-anak korban kekerasan tersebut–bukan saja menderita secara fisik tapi juga psikis.Rasa ketakutan yang terus membayangi adalah dampak dari kekerasan yang mereka terima. Mungkin jika itu sebatas kekerasan fisik masih dapat disembuhkan seiring waktu, namun jika itu masalah psikis maka trauma yang ditimbulkannya tak akan bias dihilangkan seumur hidup.

Secara yuridis formal, pemerintah telah memiliki Undang-Undang (UU)

No 4/1979 tentang Kesejahteraan Anak, UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak,

UU No 3/1997 tentang Pengadilan Anak, Keputusan Presiden No 36/1990 tentang Ratifikasi Konvensi Hak Anak. Meski demikian, realitas kesejahteraan anak masih jauh dari harapan. persoalan kekerasan terhadap anak, baik yang dipekerjakan di sektor pekerjaan terburuk, diperdagangkan, maupun korban eksploitasi seksual.

Selengkapnya klik di : Kekerasan terhadap anak

Kata kunci pencarian:

makalah psikologi, makalah kekerasan terhadap anak, makalah kdrt, psikologi kekerasan, contoh makalah kekerasan pada anak, contoh makalah KDRT, makalah psikologi kristen, makalah adaptasi psikologis masa intranatal, MAKALAH ANAK KORBAN KEKERASAN, makalah sosial tentang kekerasan terhadap anak, makalah tentang kekerasan terhadap anak, contoh makalah kekerasan terhadap anak, tinjauan psikologis kekerasan pada anak, makalah psikologi adaptasi perkembangan, makalah psikologi budaya, MAKALAH psikologi hukum dan KDRT, makalah psikologi humanisme, makalah psikologi industri, makalah psikologi industri dan powerpoin, makalah psikologi kontemporer fungsi otak dan perilaku manusia

2 Responses to “Kekerasan Terhadap Anak”

  1. daniel elpur dwi santoso Says:

    kerasan dalam rumah tangga bisa jdai dengan cara sih bisa juga dengan keuangan keluwarga lah sih para pendidik lah sih lah ya sih bagaimana kita menyikapi nyalah sih ya


  2. Susetyo Says:

    Saya suka artikel seperti tersebut diatas…
    Sekali saya klik langsung mengarah pada artikel yang dituju….
    Simple dan tidak berbelit-belit seperti link lainnya….

    Terimakasih.


Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>