Recent Articles

TEORI KOGNITIF (PART I)

Teori kognitif merupakan proses untuk mengetahui sesuatu atau belajar yang dipandang sebagai suatu usaha untuk memahami sesuatu. Pengertian lain menyebutkan bahwa teori kognitif merupakan cara mempersepsikan dan menyusun informasi yang berasal dari lingkungan sekitar yang dilakukan secara aktif oleh seorang pembelajar. Cara aktif yang dilakukan dapat berupa mencari pengalaman baru, memecahkan suatu masalah, mencari informasi, mencermati lingkungan, mempratekkan, mengabaikan respon-respon guna mencapai tujuan. Pada teori kognitif  pengetahuan yang diperoleh dari proses belajar sebelumnya sangat mempengaruhi atau menentukan terhadap perolehan pengetahuan baru dipelajari. Adapun teori yang sangat berkaitan erat dengan teori kognitif adalah teori pemrosesan informasi karena menurut teori ini setelah proses pembelajaran ada proses pengolahan informasi di dalam otak manusia yang dimulai dari pengamatan seseorang terhadap informasi yang berada di lingkungannya, kemudian informasi tersebut diterima oleh reseptor-reseptor yang berupa simbol-simbol  yang kemudian diteruskan pada registor pengindraan yang terdapat  pada syaraf pusat.
Informasi yang diterima oleh syaraf pusat kemudian disimpan dalam waktu pendek. Informasi yang disimpan dalam waktu sebentar ini sebagian diteruskan ke memory jangka pendek, sedangkan yang lain hilang dari sistem. Proses pereduksian seperti ini biasa dikenal dengan persepsi selektif. Sementara memori jangka pendek atau memori kerja dan kesadaran  yang kapasitas memorinya sangat terbatas, waktunya juga sangat terbatas.(Imron,1995,11) Read More..

Kepercayaan Mitologis Terhadap Pusaka Keris

Dunia pusaka keris adalah dunia yang sangat menarik untuk dikaji. Mengapa demikian? Tak bisa dipungkiri, banyak orang yang pro kontra terhadap benda peninggalan budaya yang satu ini. Ada banyak mitos yang berkembang di sekitarnya, ada pula yang menafikannya dan menganggapnya suatu hal yang tidak penting.

Salah satu mitos yang berkembang pada keris adalah keberadaannya yang digunakan sebagai jimat. Dengan beredarnya mitos-mitos tersebut di sekitar keris, dengan mempertimbangkan bahwa berkembangnya mitos-mitos yang tidak benar atau tidak dipahami secara benar dapat menyebabkan salah satu benda budaya khas peninggalan Indonesia ini akan dijauhi oleh anak-anak bangsanya sendiri, peneliti bermaksud untuk meneliti mitos-mitos yang berkembang di dunia keris dengan langsung bersinggungan dengan para pemilik keris tersebut. Lebih jelasnya, peneliti bermaksud untuk meneliti kepercayaan para subyek terhadap keris-keris atau benda-benda pusaka lain yang mereka miliki.

Subyek pertama yang peneliti wawancarai adalah BS beserta istrinya D di rumah mereka. Wawancara dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2012. BS adalah seorang kolektor dan pedagang keris. Sedang pekerjaan utamanya adalah sebagai polisi Pamong Praja di salah satu daerah di Jawa Timur. Beliau mendapatkan keris dan barang-barang peninggalan lainnya dari desa-desa atau teman sesama kolektor.
BS menuturkan bahwa dirinya menyukai barang-barang antik sejak kecil. Barang-barang tersebut tidak terbatas pada keris, tapi juga jenis batu-batuan yang indah, serta benda-benda unik lainnya seperti pring patil lele. BS mengatakan bahwa dirinya menyukai barang-barang antik karena naluri sendiri, bukan karena orang tuanya menyukai hal yang serupa.

Keris bisa dinilai dari dua sisi. Pertama dari bentuk dan ornamen-ornamen hiasannya. Kedua, dari qodam atau isi dari keris tersebut. Yang peneliti gali lebih dalam adalah mengenai qodam dan pengalaman-pengalaman BS terkait dengan pusaka-pusaka tersebut. Menurut BS, semua keris buatan empu pasti ada qodamnya. Read More..

PSIKOLOGI KENABIAN (Prophetic Psychology)

Memandang amaliah ke-Islaman dari sudut pandang psikologi.

Sebelum membaca lebih jauh, tulisan ini adalah kutipan penuh dari buku Psikologi Kenabian tulisan Hamdani Bakran Adz-Dzakiey. Jadi tanpa saya tuliskan ‘Adz-Dzakiey (2012)’, sudah berarti bahwa tulisan tersebut bersumber dari buku Psikologi Kenabian. Bagian yang merupakan kontemplasi saya - sebut saja di sini pengutip - ada di akhir keseluruhan kutipan.

Psikologi kenabian adalah ilmu yang membahas dan mengkaji tentang eksistensi jiwa (hakikat jiwa, sifat jiwa, martabat jiwa, serta maqam jiwa) dan gejala jiwa (perilaku, sikap, tindakan, penampilan, gerak-gerik diri) dari manusia yang telah mencapai kesempurnaan dalam melaksanakan evolusi dan transformasi diri melalui pemahaman dan pengamalan agama secara totalitas berdasarkan wahyu Ketuhanan (Al-Quran), sabda dan keteladanan kenabian (Assunah), pendapat para ahli serta pengalaman ruhaniah para auliya Allah dan orang-orang saleh.

Syarat-syarat seorang psikolog muslim :
1.    Pemahaman yang dalam tentang pesan-pesan Al Quran secara historis dan secara hakikat (tanzil dan tanzih)
2.    Pemahaman yang dalam tentang pesan-pesan as-sunnah secara historis (syariat) dan secara hakikat
3.    Harus berperan sebagai pelaku dair ilmu yang dibangunnya, bukan saja sebagai pengamat atau komentator
4.    Penguasaan ilmu hakikat dan ilmu tasawuf yang cukup
5.    Ada hubungan batin yang kuat, yaitu Allah swt dan Rasul Muhammad saw
6.    Keterbukaan antara ilmuwan yang menguasai ilmu-ilmu ketuhanan dan ilmu-ilmu kealaman atau kemakhlukan, khususnya masalah-masalah yang berhubungan dengan manusia. Sehingga lebih mudah untuk melahirkan disiplin ilmu yang komprehensif.

Psikologi agama adalah ilmu yang mempelajari dan meneliti pengaruh dan peran pengamalan agama terhadap eksistensi diri seseorang berupa sikap, perilaku, tindakan, penampilan yang muncul di permukaan aktifitas kehidupannya secara nyata.

Fungsi psikologi kenabian adalah memberikan suatu penjelasan dan pengetahuan, bahwa ajaran kenabian dalam Islam adalah pengetahuan dan tuntunan yang wajib diyakini dan diaplikasikan. Tujuan dari psikologi kenabian antara lain :
1.    Mengantarkan manusia mengenal hakikat dirinya yang azali dan hakiki, yang bersifat ketuhanan, ruhaniah, dan bercahaya yang senantiasa tidak akan pernah terpisah dari Tuhannya.
2.    Mengantarkan manusia mengenal eksistensi Tuhannya yang ‘tiada sesuatu pun yang menyerupai-Nya’
3.    Mengantarkan manusia agar dapat mencapai sehat secara holistik (sehat fisik, mental, spiritual, finansial, dan sosial)
4.    Mengantarkan manusia agar dapat mengembangkan potensinya yang hakiki, sebagaimana yang telah diteladankan oleh Nabi Muhamad saw, yakni cerdas meangit dan cerdas membumi. Read More..

Oasis Jiwa dalam Kesumpekan

LENGKAP nian sumber stres di negeri ini. Sumpek. Itulah yang banyak dikatakan orang saat ini. Dan kesumpekan bisa meledak ketika ruang benak tak mendapat jendela ventilasi.

Segala peristiwa yang terhambur di media cenderung menggunung. Baru saja kita ribut soal tawuran antarpelajar yang membuat terperanjat karena kian sadis dan menular. Sulit memahaminya, bahkan baru pada tataran shock: apa yang terjadi. Nalar belum sampai pada ”mengapa bisa terjadi” dan ”bagaimana mengatasi”.

Kekerasan lain menjadi tontonan di media, terutama televisi, yang perlahan akan terinternalisasi sebagai proses pembelajaran: kekerasan bisa dipakai untuk menyelesaikan masalah. Masyarakat seakan tak punya pilihan untuk tidak terpapar apa yang dilihat dan didengar tiap saat. Read More..

Makna Belajar dan Kendala-Kendala dalam Proses Belajar Mengajar ( Terapan Dalam Psikologi Pendidikan )

Tidak banyak orang yang menyadari pentingnya proses belajar. Tidak jarang pula seseorang tidak menyadari dengan proses belajar yang dialaminya. Seseorang yang ketika masih kecil belum dapat berjalan lantas bisa berjalan, itu merupakan proses belajar yang telah dijalaninya. Seseorang yang tadinya belum dapat berpikir tentang apa-apa lantas dapat berpikir dan bisa melihat, menilai, dan berperilaku terhadap lingkungan sekitar, maka orang itu telah menjalani proses belajar dalam hidup ini. Proses belajar itu cakupannya sangatlah luas. Proses belajar bisa melalui cara makan, minum, berjalan, mengendarai kendaraan, menulis, menggambar dan masih banyak lagi.
Tetapi semua itu sangat disayangkan ketika orang yang melakukan proses belajar justru tidak menyadari proses belajar itu. Ketidaksadaran itu disebabkan kebanyakan orang tidak tahu  makna sebenarnya tentang belajar dan mengajar. Proses belajar mengajar adalah suatu proses dua arah yang melibatkan pendidik dan para siswa di institusi pendidikan yang melibatkan aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif. Pendidik disini bisa siapa saja, bisa guru, dosen, praktisi pendidikan, ataupun konselor. Ketidaksadaran seseorang tentang proses belajar yang telah dijalaninya dan ketidaktahuan seseorang makna pentingnya proses belajar bisa jadi disebabkan kesalahan dalam proses belajar dan mengajar itu sendiri.
Kesuksesan dalam proses belajar mengajar adalah tanggung jawab antara pendidik dan para siswa. Metode yang diberikan oleh pendidik memang sudah seharusnya dapat diterima oleh para siswa. Cara menyampaikan materi yang selama ini menjadi kendala bagi sebagian tenaga pendidik, perlahan-lahan mulai diatasi dengan baik. Perkembangan teknologi sangat membantu dalam proses menyusun metode pembelajaran dan penyampaian materi.
Belajar adalah sesuatu yang harus dilakukan oleh pendidik maupun siswa. Seorang pendidik tidak akan mungkin menyampaikan materi dengan baik tanpa membaca materi yang akan diajarkan. Begitu pula seorang pelajar tentu tidak akan mendapatkan apa-apa jika hanya mengandalkan pelajaran di kelas tanpa belajar di luar jam pelajaran. Belajar adalah sesuatu yang sangat penting jika kita menginginkan pengetahuan yang luas. Belajar menjadi kebutuhan kita semua jika kita ingin hidup sejahtera dan mendapatkan tempat di masyarakat. Tidak akan mungkin orang yang bodoh menjadi pilihan di masyarakat luas. Ada beberapa hal yang menjadi dasar mengapa kita harus belajar sepanjang masa, sepanjang hidup kita. Hal ini ditulis oleh Robert Steinbach dalam bukunya Successful Lifelong Learning yang mengungkapkan ada lima alasan seseorang mesti belajar terus menerus.

Read More..

Teori-teori Motivasi Dalam Psikologi

1. Teori Motivasi isi
a. Teori Tata Tingkat-Kebutuhan
Maslow berpendapat bahwa kondisi manusia berada dalam kondisi mengejar yang bersinambung. Jika satu kebutuhan terpenuhi, langsung kebutuhan tersebut diganti oleh kebutuhan lain. Maslow selanjutnya mengajukan bahwa ada lima pokok kebutuhan, yaitu :
1.    Kebutuhan fisiologikal (faali)
2.    Kebutuhan rasa aman
3.    Kebutuhan sosial. Kebutuhan ini mencakup memberi dan menerima persahabatan, cinta kasih, rasa memiliki (belonging). Setiap orang ingin menjadi anggota kelompok sosial, ingin mempunyai teman, kekasih.
4.    Kebutuhan harga diri (esteem needs). Kebutuhan harga diri meliputi dua jenis:
a.    mencakup faktor-faktor internal, seperti kebutuhan harga diri, kepercayaan diri, otonomi, dan kompetensi;
b.    mencakup faktor-faktor eksternal kebutuyhan yang menyangkut reputasi seperti mencakup kebutuhan untuk dikenali dan diakui (recognition), dan status
5.    Kebutuhan aktualisasi-diri. Kebutuhan untuk melakukan pekerjaan sesuai dengan kemampuan yang dirasakan dimiliki. Read More..

Hubungan Antara Tingkat Stres dan Status Sosial Ekonomi Orang Tua dengan Perilaku Merokok Pada Remaja

Perilaku merokok dilihat dari berbagai sudut pandang sangat merugikan, baik untuk diri sendiri maupun orang di sekelilingnya. Ancaman terhadap kesehatan yang ditimbulkan oleh perilaku merokok telah didokumentasikan secara meyakinkan oleh Surgeon General of the United States dalam serangkaian laporan sejak tahun 1964. Diperkirakan lebih dari 430.000 pengguna tembakau tewas di usia muda setiap tahunnya (Davison dkk., 2006). Hasil survei Roy Tjiong dari Hellen Keller International dan Yayasan Indonesia Sehat yang dilakukan di Jakarta, Semarang, Surabaya, Makassar, dan Padang terhadap 155 ribu rumah tangga menyebutkan, risiko kematian populasi balita dari keluarga perokok berkisar antara 14 persen untuk daerah perkotaan dan 24 persen untuk pedesaan. Jika dikalkulasi, konsumsi keluarga miskin menyumbang 32.400 kematian setiap tahun atau sekitar 90 kematian balita per hari (Jawa Pos, 10 Mei 2009). Rokok dalam beberapa cara bertanggung jawab atas satu dari setiap enam kematian di AS, menewaskan lebih dari 1.100 orang setiap hari. Rokok menjadi satu-satunya penyebab kematian dini yang paling dapat dicegah di AS serta di berbagai negara lain di dunia (Davison dkk., 2006).
Tidak ada yang memungkiri adanya dampak negatif dari perilaku merokok, namun para perokok tetap saja tidak peduli dan tersenyum apabila diingatkan terhadap ancaman yang setiap saat akan dapat menyiksanya dalam waktu lama dan bahkan dapat merenggut nyawanya. Tidak mengherankan jika saat ini merokok seakan telah menjadi gaya hidup. Ironisnya, gaya hidup ini telah merambah usia muda, yakni remaja tanggung usia belasan. Survei Sosial Ekonomi Badan Pusat Statistik tahun 2001 dan 2004 menunjukkan terjadi peningkatan prevalensi anak-anak usia 15-19 tahun yang merokok. Tahun 2001 sebesar 12,7 persen, tahun 2004 meningkat menjadi 17,3 persen. Berdasar data Global Youth Tobacco Survey 2006 yang diselenggarakan oleh Badan Kesehatan Dunia terbukti jika 24,5 persen anak laki-laki dan 2,3 persen anak perempuan berusia 13-15 tahun di Indonesia adalah perokok, di mana 3,2 persen dari jumlah tersebut telah berada dalam kondisi ketagihan atau kecanduan (www.kompas.com). Read More..