Recent Articles

Psikologi Perusahaan Lintas Budaya

Perbedaan setiap manusia itu adalah nyata. Mulai dari gaya bicara, mode pakaian, latar belakang,dll. Dalam psikologi itu dinamakan individual differences. Apalagi di Indonesia ini yang memiliki agama, budaya, suku, ras, keadaan social yang berbeda-beda. Jika dikaitkan dengan kegiatan industri atau organisasi, maka menyatukan visi misi dan tujuan organisasi itu sendiri yang harus diutamakan. Menyatukan pemahaman dan pandangan, bekerja sama dan berkarya dari latar belakang yang berbeda, hal inilah yang harus dilakukan oleh para pemimpin untuk bisa menyatukan kepahaman agar tujuan dari organisas itu tercapai. Misalkan, dalam suatu organisasi ada orang Padang dan ada orang Jogja. Orang Padang terkenal dengan semangat kerjanya yang tinggi, tak mudah menyerah sementara itu orang Jogja terkenal dengan kerjanya yang lambat dan terkesan menunda-nunda. Itu perusahaan lintas budaya tetapi masih dalam satu negara. Perusahaan lintas budaya dengan perbedaan budaya antar negara lebih kompleks. Ini biasa terjadi dalam perusahaan yang sudah mengglobal. Pertanyaannya adalah apakah para karyawan yang berasal dari budaya yang berbeda-beda mulai dari suku, ras, etnis, bahkan antar negara bisa bekerja sama membangun perusahaan yang ditempati? Ataukah justru mereka bisa menjadi bumerang bagi perusahaan yang mereka tempati sendiri?

Read More..

Bullying? Hadapi Saja

MASA liburan usai. Setelah ketegangan dalam ujian kelulusan dan ujian penerimaan siswa baru terlewati, para calon siswa baru kembali dihadapkan dengan situasi yang tak kalah menegangkan. Yakni, masa orientasi siswa baru. Walaupun saat ini telah banyak perubahan dari masa perploncoan di masa lalu, nuansa pernak-pernik ospek masih tetap kental terlihat. Mulai kostum yang penuh warna sampai tugas-tugas yang aneh. Bahkan, lebih aneh dari ngidamnya ibu-ibu yang tengah hamil muda. Permintaan itu wajib dipenuhi walau tidak termasuk dalam tata tertib sekolah.
Saya kembali teringat pada masa-masa sekolah dulu, baik saat SMP, SMA, maupun kuliah. Bila ditarik benang merahnya, semua masa orientasi siswa baru memiliki makna yang sama. Yaitu, saat dihalalkannya mengerjai adik kelas. Walau pihak sekolah telah mewanti-wanti untuk tidak bertindak keterlaluan, masih saja ada kakak kelas yang nakal dan menganggap bahwa apa pun yang terjadi dalam masa orientasi tidak lebih dari sekadar menjalankan tradisi turun temurun.
Masa-masa orientasi yang pada awalnya hanya untuk seru-seruan atau ajang unjuk gigi senior akhirnya dapat pula mengarah pada tindakan bullying atau kekerasan. Bullying sendiri tidak hanya terbatas pada tindakan fisik seperti pemukulan, tetapi juga secara psikologis seperti merendahkan citra diri. Yaitu, mengejek, mencela fisik dan penampilan, ancaman, hingga pelecehan. Tidak hanya dapat terjadi saat ospek, bully dapat pula terjadi pada hari-hari sekolah. Bukan hanya dilakukan kakak kelas, tapi juga teman sebaya bahkan guru. Read More..

Menetapkan Peraturan Bagi Anak Ala Piaget

Di sebuah tempat penitipan anak, ada ibu-ibu nyeletuk, “Duh, anakku itu bandelnya minta ampun. Sudah dibilangin berkali-kali kalau tidak boleh bertengkar kalau sedang bermain dengan temannya. Ehh…masih saja tiap hari bertengkar”. Mungkin Anda pernah mendengar celetukan seperti ini pula di tempat yang berbeda. Atau juga omelan panjang versi lain tentang kebandelan anaknya yang masih berusia dini.

Tapi tahukah Anda, di usia dini antara 2 - 5 tahun menurut teori Piaget, tidak ada aturan yang benar. Di usia ini hal-hal yang berhubungan dengan peraturan masih diartikan secara sederhana oleh mereka. Perilaku patuh pada aturan yang mereka lakukan  merupakan sebuah ekspresi kesadaran tentang adanya peraturan saja. Namun mereka masih tidak mengerti kebutuhan untuk mengikuti peraturan. Misalnya saja seorang anak yang sering berkelahi dengan temannya, akan menjadi patuh terhadap aturan untuk tidak berkelahi karena takut dimarahi ibunya saja. Namun, si anak belum sepenuhnya mengerti bahwa aturan untuk tidak berkelahi juga baik bagi dirinya sendiri. Setidaknya menghindarkan dari akibat yang menyakitkan atau berbahaya bagi tubuhnya. Bahkan di usia dini ini anak masih belum memahami aturan ‘menang’ ataupun ‘kalah’ dalam sebuah permainan. Kalaupun mereka memberlakukannya dalam permainan mereka, mereka masih belum menyadari bahwa hal tersebut bagian dari sebuah ‘aturan’ dalam permainan.

Saat anak mulai memasuki tahap usia 6 - 10 tahun, menurut teori Piaget secara psikologi anak-anak sudah mulai mengetahui adanya aturan-aturan, meskipun terkadang masih sering terjadi ketidakkonsistenan. Mereka juga mulai memahami bahwa aturan-aturan tersebut dapat berubah-ubah. Aturan-aturan yang ditetapkan orang tua ataupun orang dewasa lainnya seperti guru, akan dianggap sebagai sebuah aturan yang tidak bisa diubah dan kedudukannya lebih tinggi. Pada usia selanjutnya anak akan lebih memahami tentang arti sebuah aturan, bahkan terkadang sudah mampu menegosiasi aturan-aturan yang dibuat. Read More..

Tes Psikologi dan Manfaatnya Bagi Pendidikan

Memasuki tahun ajaran baru tampak sekolah-sekolah favorit mulai ramai dipadati pendaftar, tidak hanya karena berbagai macam fasilitas yang ditawarkan, beragam prestasi yang pernah diraih oleh siswa atau alumni sekolah tersebut merupakan daya tarik tersendiri bagi orang tua siswa untuk memilih sekolah tersebut. Tetapi apakah sebenarnya yang dapat menunjang keberhasilan siswa dalam meraih prestasi yang diharapkan. Setiap anak dikaruniai kelebihan dan kekurangan masing-masing, dengan memahami apakah yang menjadi kebutuhan anak diharapkan akan didapat hasil yang maksimal. Tes psikologi merupakan salah satu instrument yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat kemampuan anak.

Ada banyak ragam tes psikologi yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat kemampuan anak diberbagai bidang. Beberapa tes yang biasanya  digunakan untuk mengetahui tingkat inteligensi dan kemampuan pada anak-anak diantaranya  skala intelegesi Stanford-Binet, skala wechsler,skala kaufman,dan skala kemampuan diferensial. Ada 15 tes dalam tes Stanford-Binet yang mewakili empat bidang kognitif utama diantaranya penalaran verbal, penalaran abstrak/visual, penalaran kuantitatif dan memori jangka pendek. Penguji juga memiliki kesempatan untuk menilai karakteristik emosional dan motivasional tertentu seperti misalnya kemampuan berkonsentrasi , tingkat aktivitas, kepercayaan diri dan ketekunan. Kemudian skala Wechsler, disamping penggunaannya sebagai pengukuran atas inteligensi umum, skala Wechsler juga digunakan dalam diagnosa psikiatris. Mulai dengan observasi bahwa kerusakan otak, kemerosotan psikosis, dan kemerosotan emosional bisa mempengaruhi sejumlah fungsi intelektual lebih daripada yang lain, Wechsler dan para psikolog klinis lainnya berpendapat bahwa sebuah analisis atas kinerja relative individu pada berbagai subtes yang berbeda seharusnya mengungkapkan gangguan-gangguan psikiatris yang spesifik. Read More..

Skizofrenia

Istilah skizofrenia berasal dari kata schizos : pecah belah dan phren: jiwa. Skizofrenia menjelaskan mengenai suatu gangguan jiwa dimana penderita mengalami perpecahan jiwa adanya keretakan atau disharmoni antara proses berfikir, perasaan dan perbuatan, Kraepelin seorang ahli kedokteran jiwa dari kota Munich memaparkan skizofrenia sebagai bentuk kemunduran intelegensi sebelum waktunya yang dinamakannya demensia prekox (demensia : kemunduran intelegensi) prekox (muda, sebelum waktunya).

Ada banyak perkiraan sebagai penyebab terjadinya skizofrenia, baik yang berasal dari badaniah (somatogenik) maupun psikologis (psikogenik). Perkiraan penyebab skizofrenia yang berasal dari segi fisik yang pertama adalah berasal dari faktor genetik atau faktor keturunan, hal ini telah dibuktikan dengan penelitian tentang keluarga penderita skizofrenia. Potensi untuk mendapatkan skizofrenia tidak langsung diturunkan melalui gen resesif, potensi ini mungkin kuat tapi mungkin lemah sebab selanjutnya juga akan tergantung pada lingkungan individu apakah akan menjadi skizofrenia atau tidak. Sama seperti penderita diabetes mellitus walaupun ia adalah resesif diabetes namun jika ia dapat menjaga pola hidup yang sehat maka ia tidak akan menderita diabetes. Selanjutnya adalah kelainan susunan syaraf pusat, yang terletak pada diensefalon atau kortex otak, kelainan tersebut mungkin disebabkan oleh perubahan postmortem. Read More..

Membentuk Anak Disiplin Dengan Pola Asuh Yang Demokratis

“Maunya anak jangan diturutin terus ntar malih sak karepe dewe kudu manut  ambe aturane wong tuwo” nasihat seperti itu pasti sudah pernah kita dengar entah dari kakek nenek atau orang-orang tua.

Memang budaya patriarki sudah mengakar sejak lama dan sudah menjadi ciri bangsa kita yang selalu mengagungkan orang tua sedangkan anak posisinya harus tunduk dan patuh  dengan segala aturan dan keputusan. Pola asuh yang otoriter dengan model aturan top down seperti ini biasanya lebih menuntut konsekuensi negatif (punishment) daripada mengeluarkan konsekuensi positif (reward).

Era globalisasi membuat arus informasi menjadi mudah diakses,  membuat anak menjadi lebih kritis, anak-anak apalagi remaja dapat menemukan berbagai macam hal baru diluar sana tanpa sepengetahuan kita sebagai orang tuanya.  Tentu kita merasa frustasi saat anak lebih banyak membangkang daripada mengikuti perintah kita. Aturan lama yang bersifat kaku tentu tidak sesuai lagi jika diterapkan pada masa yang bergerak cepat seperti saat ini.

Bagaimanapun dalam hidup aturan memang diperlukan, tak terkecuali bagi anak, namun peraturan itu bersifat ada dan mengikat dan bukannya mengekang apalagi membatasi ruang gerak dan berpikir anak. Read More..

Meredakan Stres Pada Anak

Apakah anak-anak juga megalami stres, sebagaian dari kita pasti berpikir mustahil seorang anak yang polos dan memiliki pemikiran yang masih sederhana dapat mengalami stres. Stres merupakan situasi dimana tingkah atau motivasi terhalang oleh suatu keadaan tertentu. Sama halnya dengan manusia dewasa, anak-anak bahkan bayi pun dapat mengalami stres dengan konflik yang lebih sederhana. Stres pada anak-anak dapat disebabkan karena merasa tidak tercukupinya kebutuhan fisik seperti makan dan minum dan juga kebutuhan akan rasa aman. Ketidak mampuan dalam menyelesaikan tugas dan dapat juga karena persaingan antar saudara atau berebut permainan dengan teman sebaya.

Kestabilan emosi atau daya tahan terhadap stres pada anak dipengaruhi kestabilan emosi ibu dan lingkungan dan ini berpengaruh pada kestabilan emosi anak selanjutnya. Anak-anak belum dapat mengenali emosinya dengan baik. Ia belum paham jika ia merasakan beberapa emosi sekaligus, ekspresi dan pengungkapannya hampir sama. Semakin ia memasuki usia prasekolah ia mulai dapat mengekspresikan beberapa emosi dengan lebih jelas.  Tantrum merupakan salah satu bentuk ungkapan stres yang dialami oleh seorang anak. Anak-anak belum mengetahui bagaimana cara menyalurkan kekesalan dan emosi yang ia rasakan sehingga muncul reaksi-reaksi agresi. Bentuk emosi yang muncul akibat stres yang dirasakan seorang anak diantaranya marah, takut,iri hati, dan sedih.

Marah pada anak biasanya diikuti perilaku tantrum, jadi emosinya cenderung tinggi meskipun tidak meledak-ledak seperti di usia yang sebelumnya. Anak marah biasanya disebabkan karena anak merasa sakit,kecapaian saat bermain, tidak bisa menyelesaikan suatu tugas, berebut mainan, merasa tergangu atau saat keinginannya tidak terpenuhi. Kemarahan yang dia lakukan misalnya dengan berteriak,rewel,memukul dan merusak barang-barang. Cara mengatasinya berikan anak dekapan hangat, tunggulah sampai anak tenang. Bila ekspresinya kurang baik seperti memukul maka sampaikan bahwa perbuatan seperti itu tidak baik.

Anak-anak dapat merasa takut karena pengalaman yang tidak menyenangkan, tontonan/cerita-cerita yang menakutkan, . Anak mengekspresikan rasa takutnya dengan menangis, menjerit-jerit berteriak dan bersembunyi dibalik tubuh orang tuanya. Cara mengatasinya berikan ia dekapan lembut hingga ia merasa aman setelah itu jelaskan apa penyebab rasa takutnya. Bila perlu ajak anak untuk melihat faktanya dengan demikian anak tidak perlu merasa takut lagi karena telah mengetahui penyebabnya. Read More..