Bullying? Hadapi Saja

MASA liburan usai. Setelah ketegangan dalam ujian kelulusan dan ujian penerimaan siswa baru terlewati, para calon siswa baru kembali dihadapkan dengan situasi yang tak kalah menegangkan. Yakni, masa orientasi siswa baru. Walaupun saat ini telah banyak perubahan dari masa perploncoan di masa lalu, nuansa pernak-pernik ospek masih tetap kental terlihat. Mulai kostum yang penuh warna sampai tugas-tugas yang aneh. Bahkan, lebih aneh dari ngidamnya ibu-ibu yang tengah hamil muda. Permintaan itu wajib dipenuhi walau tidak termasuk dalam tata tertib sekolah.
Saya kembali teringat pada masa-masa sekolah dulu, baik saat SMP, SMA, maupun kuliah. Bila ditarik benang merahnya, semua masa orientasi siswa baru memiliki makna yang sama. Yaitu, saat dihalalkannya mengerjai adik kelas. Walau pihak sekolah telah mewanti-wanti untuk tidak bertindak keterlaluan, masih saja ada kakak kelas yang nakal dan menganggap bahwa apa pun yang terjadi dalam masa orientasi tidak lebih dari sekadar menjalankan tradisi turun temurun.
Masa-masa orientasi yang pada awalnya hanya untuk seru-seruan atau ajang unjuk gigi senior akhirnya dapat pula mengarah pada tindakan bullying atau kekerasan. Bullying sendiri tidak hanya terbatas pada tindakan fisik seperti pemukulan, tetapi juga secara psikologis seperti merendahkan citra diri. Yaitu, mengejek, mencela fisik dan penampilan, ancaman, hingga pelecehan. Tidak hanya dapat terjadi saat ospek, bully dapat pula terjadi pada hari-hari sekolah. Bukan hanya dilakukan kakak kelas, tapi juga teman sebaya bahkan guru.

Read the rest of this entry »

Kata kunci pencarian:

pengertian bullying menurut para ahli, teori bullying dalam psikologi, teori bullying, makalah frustasi, makalah bullying, teori psikologi bullying, definisi bullying menurut para ahli, artikel tentang bullying, teori tentang bullying, teori psikologi tentang bullying, makalah tentang bullying, teori bullying menurut para ahli, artikel bullying, artikel psikologi sosial