Bullying? Hadapi Saja

MASA liburan usai. Setelah ketegangan dalam ujian kelulusan dan ujian penerimaan siswa baru terlewati, para calon siswa baru kembali dihadapkan dengan situasi yang tak kalah menegangkan. Yakni, masa orientasi siswa baru. Walaupun saat ini telah banyak perubahan dari masa perploncoan di masa lalu, nuansa pernak-pernik ospek masih tetap kental terlihat. Mulai kostum yang penuh warna sampai tugas-tugas yang aneh. Bahkan, lebih aneh dari ngidamnya ibu-ibu yang tengah hamil muda. Permintaan itu wajib dipenuhi walau tidak termasuk dalam tata tertib sekolah.
Saya kembali teringat pada masa-masa sekolah dulu, baik saat SMP, SMA, maupun kuliah. Bila ditarik benang merahnya, semua masa orientasi siswa baru memiliki makna yang sama. Yaitu, saat dihalalkannya mengerjai adik kelas. Walau pihak sekolah telah mewanti-wanti untuk tidak bertindak keterlaluan, masih saja ada kakak kelas yang nakal dan menganggap bahwa apa pun yang terjadi dalam masa orientasi tidak lebih dari sekadar menjalankan tradisi turun temurun.
Masa-masa orientasi yang pada awalnya hanya untuk seru-seruan atau ajang unjuk gigi senior akhirnya dapat pula mengarah pada tindakan bullying atau kekerasan. Bullying sendiri tidak hanya terbatas pada tindakan fisik seperti pemukulan, tetapi juga secara psikologis seperti merendahkan citra diri. Yaitu, mengejek, mencela fisik dan penampilan, ancaman, hingga pelecehan. Tidak hanya dapat terjadi saat ospek, bully dapat pula terjadi pada hari-hari sekolah. Bukan hanya dilakukan kakak kelas, tapi juga teman sebaya bahkan guru.

Read the rest of this entry »

Kata kunci pencarian:

pengertian bullying menurut para ahli, teori bullying dalam psikologi, teori bullying, makalah frustasi, makalah bullying, definisi bullying menurut para ahli, teori psikologi bullying, artikel tentang bullying, teori tentang bullying, makalah tentang bullying, teori bullying menurut para ahli, artikel bullying, teori psikologi tentang bullying, artikel psikologi sosial, pengertian bully menurut para ahli, menjawab bully dengan sindiran, makna bullying menurut para ahli, pendapat psikolog tentang bullying, teori bullying dalam psikologis, Pendapat pakar mengenai bullying

Tips Mengatasi Masalah Frustasi

“Aku lagi galauu….”.

“Atasi segera dengan kartu anti galau bisa sms dan chatting sepuasnya…”

Itu adalah sepenggal iklan yang akhir-akhir ini sering muncul di televisi. Tampaknya kata galau sedang menjadi tren saat ini, tidak hanya dipakai dalam perang tarif antar operator telepon seluler, diskon anti galau di pusat perbelanjaaan, kata galau juga sering diucapkan sebagai bahasa gaul yang biasa dipakai oleh anak remaja dan  ABG.

Sebenarnya apakah arti kata galau itu sendiri? Apakah benar jika dengan curhat atau sharing di dunia maya atau dengan berbelanja maka kegalauan akan berakhir? Sebenarnya apakah arti kata galau itu sendiri. Jauh sebelum kata galau menjadi tren kita lebih dulu mengenal kata frustasi. Kata frustasi terdengar memiliki nilai setingkat lebih tinggi dari kata galau, walaupun sebenarnya memiliki konotasi yang sama yaitu mengacu pada reaksi subyektif terhadap blocking atau penghalang tingkah atau motivasi yang penting sehingga mengakibatkan terganggunya penyesuaian diri.

Frustasi dapat berasal dari faktor luar  atau eksternal dan juga dapat berasal dari dalam atau personal. Zaman yang serba sulit saat ini, tuntutan kebutuhan sehari-hari yang semakin besar, kurangnya lapangan pekerjaan dan mahalnya biaya pendidikan merupakan contoh frustasi eksternal. Hilangnya atau terampasnya sesuatu yang pernah dimiliki seperti pemutusan hubungan kerja (PHK) atau seseorang yang patah hati. Frustasi eskternal dapat pula disebabkan oleh pembatasan-pembatasan atau larangan-larangan yang ada di dalam budaya,keluarga  atau hukum yang berlaku misalnya seperti kisah Siti Nurbaya yang dilarang menikah dengan lelaki pilihannya.  Pembatasan dan larangan tidak dengan sendirinya membuat frustasi namun saat larangan tadi menyebabkan individu merasa kehilangan rasa aman kedudukan prestise dan sebagainya.

Frustasi personal diakibatkan oleh kekurangan-kekurangan yang ada pada diri seseorang yang meliputi cacat yang  bersifat riil maupun tidak riil (imaginer). Macam-macam cacat dapat dialami seseorang seperti terlahir buta, tidak memiliki tangan kaki dan sebagainya, selain cacat lahir seseorang dapatr pula mengalami cacat dalam hal moral,mental dan spiritual.  Berat ringan frustasi yang dialami setiap orang tidak sama tergantung pada besarnya nilai yang dia anut. Seseorang yang menganggap bahwa keindahan jasmani merupakan nilai yang tertinggi baginya maka dia akan mengalami frustasi yang lebih besar dibandingkan jika ia mengalami cacat moral. Seseorang yang mengalami cacat moral (suka mencuri, menipu, membunuh dsb) dapat mengalami frustasi yang lebih dalam dibandingkan dengan jenis frustasi lainnya hal ini disebabkan masyarakat akan ikut menghukum dan mencela sehingga mereka menjadi merasa terus dihukum bahkan saat mereka telah lepas dari hukuman kurungan.

Selain kekurangan yang betul-betul riil kekurangan yang bersifat tidak riil atau imaginer memiliki potensi yang sama untuk menimbulkan frustasi. Seseorang yang merasa bahwa kesempurnaan jasmani memiliki merupakan nilai yang tertinggi maka ia akan mngalammi frustasi yang besar jika merasa memiliki kekurangan pada fisiknya. Tidak mengherankan jika kita melihat seseorang yang mati-matian berdiet demi mendapatkann tubuh yang langsing padahal menurut kita dia tampak benar-benar kurus. Kekurangan-kekurangan semacam itu sulit dinilai secara memadai itu sebabnya pengaruhnya terhadap stabilitas mental/pribadi lebih kuat

Read the rest of this entry »

Kata kunci pencarian:

frustasi dalam psikologi, pengertian frustasi, ciri-ciri frustasi, cara mengatasi frustasi dalam psikologi, pengertian frustasi dalam psikologi, definisi frustasi, pengertian frustasi menurut para ahli, ciri ciri orang frustasi, arti frustasi, pengertian daya tahan menurut para ahli, ciri orang frustasi, arti kata frustasi, definisi frustasi dalam psikologi, pengertian prustasi, ciri ciri frustasi, pengertian psikologi kepribadian menurut para ahli, definisi galau menurut psikologi, DEFINISI frustasi MENURUT PARA AHLI, ciri-ciri orang frustasi, makalah psikologi tentang frustasi